Pemerintah Kabupaten Wonogiri serius menangani kasus stunting yang terjadi di Wonogiri. Pemkab Wonogiri telah menyusun sebuah regulasi yang digunakan sebagai pedoman bersama dalam rangka melakukan upaya penurunan prevalensi stunting secara terkonvergensi dan terintergrasi. Salah satu strategi bersama untuk mempercepat penurunan angka prevalensi stunting adalah gerakan gerakan ibu hamil dan balita makan sehat (Bumilimase) yang merupakan prakarsa dari ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonogiri, Verawati Joko Sutopo.

Gerakan Bumilimase, menurut Sri Rahayuningsih, Wakil Ketua 1 TP PKK Kabupaten Wonogiri menjadi satu gerakan bersama guna penanggulangan stunting di Kabupaten Wonogiri. Dalam sambutannya saat acara Rembug Stunting Kabupaten Wonogiri Tahun 2021, istri Wakil Bupati Setyo Sukarno ini menyampaikan bahwa kasus stunting di Kabupaten Wonogiri merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia indonesia dan ancaman terhadap daya saing bangsa.

“Anak stunting tidak hanya secara fisik tumbuh kerdil di usianya, tetapi juga mengganggu perkembangan otaknya, yang selanjutnya akan mengurangi daya serap pelajaran maupun prestasi di sekolah dan kelak akan mengurangi produktivitas dan kreativitas disaat memasuki usia produktif dan akan menjadi beban pembangunan di masa yang akan datang,” katanya.

Hasil analisis situasi dari kasus kejadian stunting ini menunjukkan fakta bahwa faktor utama penyebab kenaikan jumlah dan prevalensi stunting ini antara lain kesalahan pola hidup sehat, pola asuh dan pola konsumsi pangan; kejadian penyakit komorbid pada balita; banyaknya pernikahan usia dini; rendahnya cakupan intervensi gizi di beberapa  desa/kelurahan baik spesifik maupun sensitif; dan penurunan partisipasi orang tua balita untuk membawa anaknya di timbang ke posyandu, terutama pada masa pandemic Covid-19.

“Dengan kondisi diatas, maka upaya penanggulangan stunting perlu suatu komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat untuk membangun sinergi yang terintegrasi, kemudian diimplemetasikan melalui gerakan bersama terutama pada desa/kelurahan lokus prioritas dengan menciptakan inovasi berbasis kearifan lokal dan teknologi untuk meningkatkan cakupan intervensi gizi spesifik dan sensitif,” lanjut Sri Rahayuningsih.

Di tahun 2021 ini tercatat sebanyak 5.222 balita terdiagnosa mengalami stunting, atau sebesar 14,07 persen dari total balita yang ditimbang serentak pada Bulan Februari 2021 di Kabupaten Wonogiri. Sebaran kejadian stunting di Kabupaten Wonogiri ini terjadi di seluruh desa/kelurahan.

Berdasarkan hasil analisis situasi yang dilakukan oleh Bappeda dan Litbang Kabupaten Wonogiri pada tahun 2021, terdapat 105 desa/kelurahan yang menjadi lokus prioritas penanggulangan stunting pada tahun 2022 yang di bagi menjadi 22 desa/kelurahan prioritas I, 34 desa/kelurahan prioritas II, dan 49 desa/kelurahan prioritas III, yang tersebar di seluruh kecamatan se-Kabupaten Wonogiri.

Sri Rahayuningsih berharap seluruh upaya yang dilakukan Pemkab dan seluruh jajarannya serta stakeholder terkait dalam rangka penanggulangan stunting mendapatkan hasil yang menggembirakan untuk mewujudkan Wonogiri bebas stunting.

Penulis : SIKP_kominfowng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *