WONOGIRI CETAK REKOR MURI CAMPURSARI 100 JAM


WONOGIRI CETAK REKOR MURI CAMPURSARI 100 JAM

Pentas Campursari 100 Jam yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-277 Kabupaten Wonogiri mencatatkan diri di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai pementasan campursari terlama. Rekor ini mengungguli rekor campursari terlama sebelumnya, yakni pementasan campursari 90 jam yang dipegang oleh Kabupaten Gunung Kidul. Pementasan yang dimulai pada 28 April 2018 pada pukul 21.00 WIB selesai hari Kamis (3/5) dinihari di alun-alun Giri Krida Bhakti Wonogiri.

Menurut Perwakilan MURI, Ariani Siregar, catatan MURI sebelumnya untuk Wonogiri adalah rekor pembuatan kelir wayang kulit terpanjang, penanaman pohon terbanyak, dan memakan tiwul dengan peserta terbanyak. “Hari ini tercatat dalam MURI ke 8.441 pementasan Campursari 100 Jam sebagai rekor baru setelah mengalahkan rekor sebelumnya pementasan campursari selama 90 jam yang dipegang oleh Kabupaten Gunung Kidul,” imbuhnya.

Lebih dari 100 seniman yang berasal dari berbagai daerah turut hadir memeriahkan acara kerja bareng Pemkab Wonogiri dan Panata Organizer ini. Pimpinan Panata Organizer, H. Sularto Diharjo mengatakan bahwa seni dan budaya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ia sangat mengapresiasi terhadap seluruh elemen yang menyukseskan acara pementasan campursari 100 Jam. Harapan kami, pementasan seni ke depan dapat membuahkan hasil, yakni para seniman se-Solo Raya dapat tampil dan mengukir prestasi dunia,” imbuhnya.

 Selain Kabupaten Wonogiri tercatat di MURI, Panata Organizer juga mendapat penghargaan MURI sebagai penyelenggara, dan perwakilan Panata Organizer yakni Sastro Harjanto turut mendapat apresiasi oleh MURI sebagai inisiator acara Campursari 100 Jam ini.
Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri, Drs. Suharno, M.Pd mewakili Bupati Wonogiri, Joko Sutopo mengatakan pentas Campursari 100 Jam merupakan sarana untuk berkumpul seluruh elemen masyarakat. Kegiatan Campursari 100 Jam dapat diambil nilai bahwa seni sebagai sarana untuk olah rasa, cipta dan karsa harus mendapatkan tempat dan ruang untuk berkreasi.
“Hal yang sama juga harus dilakukan pada bidang kesenian yang lain. Kabupaten Wonogiri sebagai salah satu wilayah dengan potensi seni dan budaya tradisional yang sangat beragam kiranya mampu memberikan fasilitas dan dukungan agar potensi budaya yang ada dapat berkembang dan lestari,” ujarnya.

 

Reporter dan Foto : Humas Setda Kab. Wonogiri

Apakah website ini bersifat informatif?

  • Pengunjung (304643 Kunjungan)
  • Hits (304643 Kunjungan)
  • Hari Ini (22 Kunjungan)
  • Kemarin (963 Kunjungan)